Rumah belajar bisa dikatakan mirip dengan home schooling, yang berarti sekolah yang diadakan di rumah. Namun pada hakikatnya homeschooling adalah sebuah sekolah alternative yang menempatkan anak-anak sebagai subjek dengan menggunakan pendekatan pendidikan secara “at home”.
Jadi, rumah belajar adalah salah satu alternative untuk membantu anak-anak dalam proses pembelajaran yang diciptakan dirumah. Dengan adanya rumah belajar akan mendukung kegiatan-kegiatan yang ada di sekolah, dengan adanya rumah belajar juga akan menutupi kekurangan apa yang ada telah diajarkan di sekolah.
Melayani masyarakat adalah bagian terpenting dari Rumah Belajar, yang mengutamakan pemberian pelayanan terbaik berdasarkan kebutuhan dari masyarakat sekitarnya, tanpa membedakan apakah mereka sudah menjadi anggota atau belum. Rumah Belajar juga menerapkan prinsip belajar aktif melalui tiga cara yakni melihat, mendengar dan melakukan.
Sehingga perlu adanya pengembangan fasilitas baik berupa fasilitas buku, komputer dan audio visual. Pengembangan kegiatan yang melibatkan masyarakat seperti diskusi, pelatihan ketrampilan, dongeng dan sebagainya, Juga pendampingan dan pelatihan. Dengan adanya rumah belajar, masyarakat dan pengguna akan lebih bisa mengatur waktu untuk belajar.
Rumah belajar diciptakan untuk bisa memberi semangat bagi masyarakat dan anak-anak untuk lebih giat belajar lagi. Anak-anak juga akan merasa nyaman dalam belajar karena mereka dapat belajar apa saja sesuai keinginannya. Mereka juga dapat belajar kapan saja. Anak-anak juga tidak dituntut untuk belajar secara terus menerus di rumah. Mereka juga dapat belajar di lingkungan mana saja asal situasi dan kondisinya benar-benar nyaman dan menyenangkan.
Belajar dirumah itu sangat mudah dan murah. Cara belajar mereka bisa sambil bermain, sehingga tidak membosankan. Pada kegiatan ini, peran orang tua adalah sebagai guru bagi anak-anak. Anak-anak pada dasarnya memiliki kemampuan alamiah untuk belajar dengan caranya sendiri, namun orang tua wajib mendampingi. Kegiatan Rumah belajar ini adalah sebagai pelengkap bagi pendidikan di sekolah untuk menggali berbagai minat yang dimiliki anak-anak dan berusaha agar rasa ingin tahu mereka tetap hidup.
Kunci utama penyelenggaraan rumah belajar adalah adanya kelenturan atau fleksibilitas. Jadi tidak boleh kaku dan terlalu berstruktur sebagaimana sekolah formal. Jika terlalu disusun dalam kurikulum yang baku maka rumah belajar justru akan kehilangan makna utamanya.

B. Kegiatan Rumah Belajar

Kegiatan dalam rumah belajar ini bisa diadakan pula di dapur, di taman, di kolam renag dan di tempat-tempat lain yang menyenangkan dan bisa membuat nyaman anak-anak. Kegiatan-kegiatan rumah belajar bisa berupa pengembangan kegiatan yang melibatkan masyarakat seperti diskusi, pelatihan ketrampilan, dongeng dan sebagainya, juga pendampingan dan pelatihan. Pada akhir kerjasama, layanan perpustakaan berkembang menjadi tidak hanya rutin namun lebih variatif kepada pengguna dari berbagai kalangan.
Kegiatan rumah belajar harus mempunyai jadwal tersendiri. Misalnya hari senin pukul 15.00 WIB jadwalnya adalah kegiatan yang berhubungan dengan tekhnologi, yaitu computer dan internet dan seterusnya. Kegiatan rumah belajar juga bisa mengadakan lomba-lomba agar anak-anak bisa lebih semangat. Selain itu juga mendirika sebuah perpustakaan yang banyak dengan buku-buku yang bisa memberi imajinasi anak-anak.
Buku merupakan pengusung peradaban. Tanpa buku, sejarah menjadi sunyi, sastra bisu, ilmu pengetahuan lumpuh, serta pikiran dan spekulasi berhenti. Sebagai orang tua kita juga harus memberikan dorongan anak-anak untuk rajin membaca. Dengan membaca akan menambah kosa kata dan pengetahuan akan tata bahasa. Membaca juga memperkenalkan kita pada banyak ragam ungkapan kreatif, dan dengan demikian mempertajam kepekaan linguistic dan kemampuan menyatakan perasaan.
Kegiatan rumah belajar juga bisa diubah menjadi kegiatan yang dapat mengasah bakat anak-anak. Sehingga bakat-bakat mereka nantinya akan semakin meningkat. Misalnya dengan kegiatan musik, olahraga-olahraga, kerajinan dll. Setiap minggu diadakan kegiatan rutin seperti membaca dongeng, belajar menulis, mewarnai, asah kreatifitas, nonton bareng dan les bahasa Inggris.

C. Dapatkah rumah belajar menjadi bagian dari perpustakaan sekolah
Rumah belajar adalah salah satu kegiatan yang mendukung kegiatan di sekolah. Dengan adanya rumah belajar, kekurangan dari apa yang di ajarkan di sekolah akan tertutupi. Pengertian dari perpustakaan sekolah sendiri adalah sebuah ruangan, bagian sebuah gedung, ataupun gedung itu sendiri yang digunakan untuk menyimpan buku dan terbitan lainnya yang biasanya disimpan menurut tata susunan tertentu untuk digunakan pembaca, bukan untuk dijual.
Rumah belajar bisa dikatakan sebagai bagian dari perpustakaan sekolah karena kegiatan rumah belajar juga bertujuan untuk membantu kegiatan belajar mengajar, keduanya memiliki tujuan yang sama sehingga bisa dikatakan kalau rumah belajar adalah bagian dari perpustakaan sekolah.
Siswa atau anggota rumah belajar bisa menyelesaikan tugas atau kesulitan-kesulitan yang dijumpai di sekolah. Bedanya, jika di perpustakaan sekolah hanya terdapat buku-buku kegiatan belajar mengajar, buku-buku fiksi hanya sedikit seperti majalah dan komik. Di rumah belajar bisa terdapat buku-buku bacaan dan mainan-mainan yang bertujuan untuk meningkatkan pengetahuan siswa, komputer dll.
Rumah belajar akan membawa anak-anak untuk belajar di dunia nyata, di alam yang sangat terbuka. Di samping itu, objek yang dipelajari anak pun bisa sangat luas. Rumah belajar bias membebaskan anak untuk belajar apa saja sesuai minat dan hal-hal yang disukainya. Mereka juga bias mengunjungi ke berbagai tempat yang bias menjadi objek pelajaran, seperti persawahan, taman burung, pemandian air panas, dll.

D. Peran perpustakaan sekolah terhadap rumah belajar
Secara umum, peran perpustakaan sekolah adalah :
• Memfasilitasi perencanaan dan pelaksanaan program-program pembelajaran yang akan membekali siswa dengan keterampilan yang diperlukan untuk berhasil dalam lingkungan sosial dan ekonomi selalu berubah. Melalui program-program berbasis sumber daya, siswa memperoleh keterampilan untuk mengumpulkan, kritis menganalisis informasi dan mengorganisir, memecahkan masalah dan mengkomunikasikan pemahaman mereka.
• Menyediakan dan mempromosikan fiksi kualitas untuk mengembangkan dan mempertahankan pada siswa kebiasaan dan kesenangan membaca untuk kesenangan dan untuk memperkaya pertumbuhan siswa intelektual, estetika, budaya dan emosional.
• Melayani perbedaan gaya belajar dan mengajar melalui penyediaan dan kesetaraan akses terhadap berbagai bahan fiksi dan non fiksi, cetak, audio, video dan digital.
• Menyediakan guru dengan akses ke informasi kurikulum yang relevan dan materi pengembangan profesional dalam maupun di luar sekolah; dan kesempatan untuk kooperatif merencanakan melaksanakan dan mengevaluasi program pembelajaran yang mengintegrasikan sumber daya informasi dan teknologi.

Namun sebenarnya peran perpustakaan terhadap rumah belajar adalah hampir sama, menyediakan bahan-bahan ajar untuk siswa. Siswa meminjam buku di perpustakaan sekolah hanya dalam tempo singkat membuat siswa tidak mampu belajar secara lestari. Bahkan, bersekolah tanpa memiliki buku panduan yang digunakan di kelas menjadikan siswa kebingungan. Kehadirannya di kelas tak ubahnya sebagai penjara karena tak mampu mengikuti pembicaraan yang dibahas di kelas. Lalu mereka akan menambah kegiatan yang dapat membantunya menyelesaikan permasalahan di sekolah, salah satunya dengan mengikuti kegiatan rumah belajar tersebut.
Perpustakaan sekolah tidak efektif dibandingkan dengan rumah belajar, jam pelayanan untuk siswa sangat kurang. Ketika siswa sedang istirahat, mereka tidak akan pergi ke perpustakaan sekolah, melainkan asik dengan bermain dan jajan sekolah. Namun ketika jam pulang sekolah, perpustakaan sekolah tutup. Sehingga mereka bingung akan menyelesaikan persoalan sekolah. Namun tidak dengan rumah belajar, mereka bisa datang kapan saja. Karena konsep rumah belajar membantu secara total para siswa menyelesaikan berbagai persoalan sekolah, banyak siswa tidak langsung pulang ke rumah masing-masing sepulang sekolah, melainkan mampir terlebih dahulu ke rumah belajar.
DAFTAR PUSTAKA
MULYADI, seto.2007. Home Schooling keluarga kak-Seto. Bandung : Kaifa.
FRANZ, kurt. 1983. Membina minat baca. Bandung : CV Remaja Karya.
http://www.coca-colafoundation-ind.org/ina/program/index.phpjact=detail&p-id=28. Diakses pada tanggal 13 April 2011 pukul 11.00 WIB
http://noorikaahmad.multiply.com/journal/item/13?&show-interstitial=i&u=/journal/item. diakses pada tanggal 18 April 2011 pukul 09.30 WIB

Komentar

Pos populer dari blog ini

Cara memuji anak yang benar